Friday, July 29, 2005

Katanya sih, Selamat Datang di Dunia Maya

Image hosted by Photobucket.com

Jikalau saya dianggap menebarkan isu sepihak tentang pertanyaan mendasar hubungan dunia nyata dan realita semu, itu bukan tambahan dari masukan buat tulisan pengantar pameran saya. Jujur saja saya sering terkaget kaget akan kurasi sebuah karya pada pameran-pameran seni rupa tertentu dan tulisan pengantarnya yang biasanya tidak akan terbayangkan oleh senimannya sendiri dan juga saya nantinya. Selanjutnya saya hanya bisa pasrah dan membeo. Toh, mereka adalah pembangun jembatan kepada ‘audiens’ awam, saya mempercayai mereka sama seperti halnya mereka mempercayai saya.

Dunia nyata dalam konsep dinamika hidup adalah mencari penghidupan yang layak dengan mengikuti sebuah sistem besar. Dunia nyata adalah ketika kita bersentuhan dengan sesuatu yang tak jelas dan larut dalam identitas tunggal yang diyakini lebih menarik dibandingkan aselinya. Bukan dunia tipu daya, toh walau banyak yang menggunakan dunia maya sebagai ajang kontes buaya, secara tak sadar realita dalam layer kaca ini memang lebih riil dan memukau dibandingkan kenyataanya.

Ruang yang telah dibangun, adalah ruang Cyber. Sebuah koneksi elektronis terhadap jaringan dunia dan lingkup informasi global yang amat sangat tidak membutuhkan jangka waktu.

Sebelumnya saya sudah menganggap hal ini sebagai realita ketidak-adaan yang gamang. Karena batasan yang penting dari sebuah dunia ditentukan oleh pijakan realita dan apa yang dilihatnya berdasarkan panca indra dalam tubuh itu sendiri Sayangnya, ini bukan takdir tapi ini pembentukan rasanya, kita sudah dihadapkan pada sebuah teknologi yang bernama penyaji ilusi dan realita dalam teknologi yang mampu melakukan proses pembekuan waktu. Selamat datang di dunia maya, ketika seseorang melakukan aktifitas mimpi, nyata dalam ketidakadaannya dalam wahana cyberspace.

Dunia Maya, bagi beberapa orang, skema ini adalah penegasan dari suatu kasus dimana realitas yang ‘nyata’ ini sebagai bagian dari jaringan interkoneksi global dari sebuah layar monitor kaca dan perangkat keras elektronik komputer, dengan mouse sebagai pengganti jari jemari untuk bersentuhan langsung kepada subjek, yang dilingkupi ketiadaan secara fisik. Dengan berarti dunia nyata versi ini adalah ketidakadaaan yang disiapkan untuk menjadi ada namun nyata dibenak kita. Sampai kemudian keseharian ini dibentuk dengan realita sebuan televisi sebagai jendela mata informasi bertadah racun menembus jiwa. Sialnya, kita saat ini dikondisikan lebih mempercayai status kenyataan di layar kaca dibandingkan apa yang kita rasakan dan baca. Opini adalah nomor kesekian untuk disandingkan dengan realita. Kenyataan adalah perbandingan dengan apa yang kita rasakan dan camkan sebagai individu yang menerima sensasi berita. Sensasi dalam urusan manusiawi, ketidak berdayaan dalam menggelontorkan materi. Pahit dan menelan air liur. Informasi saat ini menelurkan sikap perbandingan dan potensi waktu untuk bercermin terhadap kenyataan. Realita yang eklektis tentang tempat, suatu berita dan waktu, serta budaya. Tengok betapa luar biasanya nilai transfer seorang pemain Liga Seri A Italia ke dalam sebuah klub Liga Inggris yang mungkin sanggup membiayai jatah alokasi pendidikan nasional di negeri ini. Tengok perbandingan sebuah eksekusi pernikahan selebritis luar negeri dengan kasus peceraian selebriti lokal dan pembagian harta gono gini mereka di dalam berita-berita negeri sendiri. Dan aktifitas sexual dan masturbasi yang tercipta amat sangat menarik secara interaktif didalam ruang maya atau cyberspace ini jauh dibandingkan membeli majalah Playboy yang diam-diam ditawarkan di deretan Penjual buku bekas di Cikapundung, Bandung. Perbandingan adalah sesuatu yang wajar, namun itulah efek buruk realita yang menghasilkan bukti, bahwa manusia modern ikut andil dalam menciptakan erosi rasa dan empati terhadap sesama. Dengan menciptakan kelas- kelas tertentu. Dalam hal ini Karl Marx bisa jadi tersenyum getir atas apa yang dia ramalkan. Hiperealitas menciptakan ruang, dan cyberspace adalah ruang yang ikut melaksanakan pertanggung jawaban baru atas cipta rasa dan karsa luar biasa ponggah ini. Tapi kelas bisa jadi menghilang sebelum perbenturan dengan kenyataan menghasilkan pemahaman hidup baru.

Identitas dan diri sendiri terbentuk atas penyikapan terhadap suatu masa. Dan masa itu adalah masa runtutan informasi dari suatu keadaan dalam ketidaknyataan. Kamu adalah apa yang kamu baca, dengarkan, ikuti, makan, pakai dan tonton. Kamu juga apa yang kamu ketik dan klik. Kamu juga apa yang kamu lihat dan perkarakan untuk kemudian kamu rasakan ini sebagai masanya. Kamu ( kok kamu lagi sih) adalah apa yang kamu lakukan sekarang.

Cukup dengan kamu, dunia nyata dan dunia maya telah dihilangkan dalam batasan yang sangat tidak jelas. Hidup dengan rambu dan media, serta etika. Dunia punya etika dan regulasi , baik nyata atau tidak. Dunia nyata mungkin jelas. Dunia maya? Mungkin punya , tapi apa? Untuk itu dengan apa kita bisa mengontrolnya?

Dunia maya, internet, informasi global, isi layar kaca, bahkan hiperealitas di televisi adalah ‘senjata’ yang ramah dan juga sangat kejam.Gabungan antara kesemuanya menciptakan padanan masyarakat dengan pemahaman inetelektualitas tinggi dan juga menjerumuskan kearah degradasi moral.

5 tahun lagi semoga Internet masuk desa.

2 comments: