Friday, July 22, 2005

Menjadi Fans Kultural yang Baik

Menjadi seorang yang saya sebut sebagai Fans kultur, bukan dosa tapi takdir yang sudah dikutuk. Kesadaran sosial penting, tapi bukan jadi nasionalis, cuma kita sadar dimana kita berpijak. Itulah mengapa kita lebih hafal nama brand barang dibandingkan nama pahlawan nasional negara kita sendiri, bahkan upaya hidup hedon lebih menarik perhatian kita tanpa sadar dibandingkan melongok anak-anak miskin putus sekolah. Dan sekali lagi atas nama fatwa, kekerasan bisa dilegalkan. Sekali lagi, itu bukan dosa tapi kutukan takdir.

Darah manusia tercampur oleh hasrat materi. Mitos dan Logos, bahwa keyakinan adalah citra sejati dari wilayah berpikir manusia hingga kini.

Apakah ini yang disebut upaya jaman ?, bukan ikut menelisik pemikiran sepaham, ternyata kegelisahan pun larut dalam upaya mendedahkan sesuatu keadaan yang lebih baik. Itulah dimensi masa kini, bukan sekedar upaya melongok pembaharuan masa lalu sebagai warisan ideologis yang teramat penting untuk dipelajari. Runutan sejarah sebagai ikon yang sekedar di ingat. Hal sekarang adalah membicarakan periode dari yang disebut era pembaharu. Sesuatu yang menapaki jejak dalam perkembangan jaman, bisa jadi sebuah wacana yang kerap disebut sebagi wacana menembus batas, eskalasi penting dari Ambient Media (gaya hidup, media dan budaya), penikmat segala pengaruh untuk lebih faham apa yang akan dihasilkan. Toh, saya rasa kita bertarung dalam wujud ambigu, sesuatu yang meliputi apapun, untuk membentuk diri kita sendiri. Diri sendiri yang sudah tak jelas asal usulnya.

Dengan ini saya bersimpuh dan memohon untuk bukan menjadi plagiat sejati. Menjadi sesuatu yang gamang dan erat dengan perkembangan dan siklus penting dari realita dalam perjejalan dan pemiuhan makna industri. Bukan menjadi tukang poles sejati dengan cermin. Cermin merupakan bayangan nyata sebuah refleksi realita, kecuali drakula, drakula yang bercermin.

Drakula yang dungu tepatnya.

2 comments:

-cHie- said...

Hemm..postingan berat. Kritis. I just wanna say one word (eh..make it two ;p): Be Yourself.
Terlepas dari apa pun perubahan dunia, you are what you are. no need being confused with the changes.

wahyudi pratama said...

:P gue gak bingung cuma mulai mempertanyakan aja :P hehehe jadi dalem gini ah ...gaswat