Monday, March 07, 2005

Budaya Penyangkalan

Asik memperkarakan persepsi, eksepsi dan asik sendiri terutama. Sambil sibuk cela sana cela sini soal refleksi identitas, yang sebenarnya berujung tentang wilayah sendiri. Itulah wujud tentang Seni sekarang.Budaya Penyangkalan, menyangkal kulit luar dan materi dalam dengan mengemas kedalam bentuk yang sama saja. Begitulah saya mencoba memberikan secuil pandangan tentang budaya apa yang di sebut posmo ini. Sebuah upaya dari unsur lain dalam memperbincangkan budaya penyangkalan ... Ngeyel melulu kalo kata PakDe Kere Kemplu.

Image hosted by Photobucket.com
Yasumasa Morimura,To My Little Sister For Cindy Sherman, 1998

Dinamika perkembangan yang berjalan perlahan, layaknya seorang anak manusia yang baru belajar berjalan secara tertatih tatih.Itulah saya memandang persoalan tentang wilayah eksistensial dan ke'otonomian' formalistik wujud materi dan diskursif, yang ternyata gampang di towal towel, rupanya.

Bagi saya, membahas tentang seni sama menariknya ketika saya mencoba melihat dimensi lain dari berbagai pokok bahasan. Adanya semangat histeria bentuk kebaruan dan keberpikiran. Sama halnya ketika menarik petatah petitih seorang Adorno, yang telah jauh jauh hari mengidentifikasikan 'budaya penyangkalan' ini, lewat wujud seni. :)

Saya jadi melihat ada semacam upaya lebih ke arah menggelontorkan geliat permukaan wilayah hampa dan kebingungan, ketimbang ungkap pembaruan atau what-so-called 'garda depan'. tentang apa yang terjadi dalam purifikasi Seni sebagai salah satu wilayah representasi era modern atau kontemporer, sekarang. Seni yang seharusnya menjadi ritme dalam masyarakat secara kesehariannya telah mencelat ke arah kesendiriannya, sesuatu yang seharusnya di jembatani dengan pembelajaran dan penyadaran. Walau di dalamnya terdapat banyak kemungkinan akan pertaruhan wujud muatan. Humor,satire, trend, identitas keseriusan dan bahkan sampai menjulang ke arah shamanistik.

Image hosted by Photobucket.com
Cindy Sherman, "Untitled 96", photography + artwork.

Modernitas yang telah menciptakan diri, dalam wujud anomali. Bahwa Seni,wilayah praktis, berpikir dan lebih religius sekalipun ke kehidupan masyarakat banyak saat ini. Menggerus upaya penyadaran dan mawas diri. Saya pikir, sudah cukup ramai orang orang dalam scene itu berteriak tentang hal itu :).

(Ini semacam kesimpulan belaka tentang apa sedikit perubahan saya tentang bagaimana memandang 'seni' setelah terlibat perbincangan beberapa waktu yang lalu)

2 comments:

kéré kêmplu said...

ndak masalah, dik yudi. mau penyangkalan atau peneguhan itu tergantung suasana hati dan arus [sesaat] masa. apapun trennya, dan apapun teks besar rujukannya, juga apapun minumannya selain teh botol, bagi saya setiap orang adalah seniman yang baik, minimal terhadap dirinya sendiri.

wahyudi pratama said...

hehehehehe saya cenderung setuju dengan ini..seniman juga adalah setiap orang yang memperhatikan 'estetika' dan menjalankan 'artistik' kesehariannya . . . (sok dalem)