Monday, April 18, 2005

- kepalsuan prinsipal -

Bagaimana tentang jual beli idiom gender dalam konteks semata hiburan ? lihat ini

Kebebasan berekspresi. Dan kepalsuan prinsipal yang dijual secara telak.

Lihat ulang tentang kebebasan, demokrasi dan batasannya. Kebebasan ekspresi individu ini tak bisa dinikmati di bawah pemerintahan otoriter di masa lalu, di mana banyak terjadi rekayasa penyeragaman pola perilaku yang justru bertentangan dengan nilai-nilai budaya yang bersifat sangat spesifik.

Lagak modernitas dalam perbedaan paham. Inilah yang membuat kaum yang merasa dan memang 'intelektual' tersinggung. Dalam hal ini, intelektualitas secara keseluruhan diuji di paparkan dan dilihat ketahanannya melawan arus besar pengkerdilan opini cecitraan secara ilusif. Seorang Edward Said (1935 - 2003), mengatakan bahwa intelektual adalah individu yang dianugerahi kemampuan menggambarkan, mewujudkan, dan menyampaikan suatu pesan. Sedangkan masyarakat dalam hal ini secara definitif merupakan sebuah dunia menengah yang berada diantara negara dan rumah tangga, dihuni oleh kelompok-kelompok terorganisir atau asosiasi dimana terpisah dari negara dan pasar, dan kemudian menikmati sebagian otonomi didalam hubungannya dengan negara dan terbentuk (secara sukarela) oleh anggota-anggota masyarakat untuk melindungi dan memperluas kepentingan, nilai atau identitas mereka.

Kesimpulan lain; intelektualitas, tidak berarti menghakimi dan memberikan pengertian sosial tanpa memenuhi unsur kepentingan pribadi dan masyarakat. memberikan pengertian lewat media, layaknya sebuah pisau yang memiliki sisi tajam berkarat dan bersih lembut menyayat.

Sesuai dengan budaya ketimuran(?)

Kepentingan dan nilai identitas ternyata menjadi semacam bumbu penyedap konflik dalam tatanan antara masyarakat intelektual dan kepentingan intelektual pasar. Ketimuran, sebuah paradigma baru yang dibekukan dalam konteks barat. Karena ketimuran sendiri menyimpan relasi sosial dengan pengaruh ribuan tahun semenjak imperialis awal berdiri. Saat itulah cecitraan timur mulai membentuk hegemoni kolektif tentang keragaman. Sebagai sesuatu yang tidak lagi dibanggakan. Keragaman yang mengubur persatuan menuju perbedaan.

Wacana untuk lebih apatis tepatnya. Kolektifitas modern.

Ini bukan lagi konsep utuh dalam kacamata perdebatan arus Timur dan Barat(mistifikasi problema nan basi).

Mengubur dalam dalam impian utopis atas netralitas semu. Dunia media terbagi dalam wujud fungsional dan tujuan. Imaji sampah dalam sampan arus besar idealistik. Kebenaran fundamental dari sektor pemerhati dan pemberi saran menuju hal yang lebih baik, dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian.

Meaning for meaning's sake
. Ini bukan berarti akhir digjayanya proletariat dalam metode sekular. Mitologi sebuah negara dunia ketiga yang menerima sampah dan produk produk copy serba instan. Tidak salah, namun inilah pemberhalaan barat yang berlebih dalam konteks ini. Yang menimbulkan sensasi konyol soal estetikasi mimpi dan cita cita.

Ini kebenaran, kebenaran yang bisa saja didistorsikan. Kebenaran dan persepsi tentang kebenaran memang sangat bergantung kepada artikulasi. Sehingga sebuah kebenaran politis yang 'benar' bisa menjadi salah karena artikulasi yang salah. Sehingga polarisasi nilai nilai kebenaran memang rancu ketika kepentingan masyarakat sebagai sistem ekuasional dalam institusi berseberangan dengan kaum intelektual yang mengupayakan mode utopis dalam strata baru masyarakat yang cerdas. Mistifikasi ilmu ilmu teknis yang begitu kental dalam masyarakat ini memungkinkan praktik hegemoni kekuasaan dan kepentingan bersembunyi dengan rapi di balik jargon-jargon ilmiah.

Saya jadi ingat, ungkapan seorang tokoh Turki, Abdullah Cevdet, yang mengangankan upaya peradaban dan hegemoni dari Barat seutuh utuhnya. Pinjamlah Mawar dan durinya sekalian. Menelan bulat bulat sampai muntah. Saya jadi heran, ini sebuah ungkapan pujian atau putus asa ?.

Penguasa tentang media dan opini, di satu sisi, memiliki logika kebenaran politis yang tidak begitu saja bisa diterima oleh masyarakat. Yang di dalam dirinya terdapat logika kebenaran komunal, di sisi yang lain.

Dan ketika sebuah angan berhasil dikumpulkan dalam selera kolektif. Sebuah selera dan hasrat yang cenderung tak bersih. Profane Wishes. Maka angan angan kotor tentang materialisme dan imaji cecitraan berhadil dibentuk dalam sebuah wadah. sebuah wadah keberagaman media yang menikmati titik tolak keragaman ekspresi individu.

Jangan pernah untuk mencoba percaya.

1 comment:

mPitzky said...

kalo kek mulder gitu gimana om? I want to believe, gitu?