Friday, April 01, 2005

keseharian

Setiap kegiatan manusia berakhir di tempat tidur. Dan bangun untuk memulainya kembali. Pergulatan pada sisi eksistensialis diri. Ada dan tidak ada akhirnya menjadi jalur instingtif yang ditumpahkan pada sisi pencapaian batiniah.

Memahami sisi kehidupan dengan mem-filsafat-kan keseharian.

Sebagian dari tema-tema eksistensial manusia: kelarutannya dalam keseharian, kecemasannya, bahkan keterlemparan kehidupannya bagai roda yang menggelinding menuju kematian. Keteraturan yang dinamis ternyata terhenti oleh aspek lain dalam cecitraan nafas. Yang terkadang menghela nafas, tersengal sengal dan terhenti. Kematian jadi suatu definisi ilmiah tentang tubuh, bukan menakar jiwa atau ruh, sesuatu yang luar biasa kompleks. Dan dimudahkan secara fisik, untuk ketika roh manusia di-ilmiahkan dalam ampul 21 gram.

Artikulasi pengucapan yang terhenti saat hidup dan mati ditentukan oleh sebuah hembusan nafas.

Ketika kesendirian datang pun manusia tetap melawan dengan relasi sosial. Dan ketika semuanya terpecah kedalam wilayah sosial, pada akhirnya kesendirian menjadi kebutuhan dalam wujud aktualisasi diri wilayah pribadi. Sosialisasi menjadi tumpuan baku hirupan nafas modern yang kian lama tersengal sengal. Nama penting ruh kejiwaan dan kehidupan. Dengan mutilasi zat dan elemen pribadi dalam kelompok kelompok sosial. Aktualisasi wujud diri sendiri kearah mempertanyakan identitas. Identitas gamblang apa itu manusia, dalam kesehariannya.

Kehidupan mungkin tidak ditentukan oleh kesadaran, tetapi kesadaran yang ditentukan oleh kehidupan. Bisa saja kesadaran menjadi suatu upaya menyadari supremasi 'narasi' tentang kehidupan. Ketika, disatu sisi perlambangan sosok Tuhan yang dianggap menciptakan jalur lalu lintas dan aktifitas keseharian manusia. Di sisi lain mucul pula adanya upaya menganalisa tanda dan direksi penciptaan-Nya, tanpa harus melibatkan kisi kisi sang ikon yang disebut 'Tuhan'. Pertentangan tetap harus ada demi menjaga dinamika kehidupan, rupanya.

Rutinitas yang tercipta dalam keseharian individual menghasilkan tematik besar bagi narasi sebuah filsafat keseharian. Kehidupan memang menggulirkan nafas keteraturan yang sering lupa untuk didobrak. Wujud kaku ekspresi tunggal wajah pucat manusia ditampilkan dalam suatu narasi tunggal. Irama industri. Suatu hal yang bertolak belakang ketika globalisasi mencengkram berbagai penjuru dunia. Upaya mengadakan skema eklektisitas, perayaan unsur unsur bebas dan lepas dalam satu kontrak mati ekonomi Mega-kapital. Surga maha ada, yang menumpulkan asa. Dan menciptakan ekstase dahaga kebendaan dan orientasi materialistik, belaka.

Itulah keseharian yang meliputi komplektisitas dan rumitnya takaran kegembiraan batiniah. Jika secara fisik manusia mampu mengadakan manipulasi citra, maka secara bathin manusia mencoba memberikan pemuasan dari dahaga pada tingkat tertinggi. Yang diyakini lebih mengarah pada solusi jiwa. Religiusitas yang terbentur pada dinamika zaman. Religi, pada akhirnya memang merupakan suatu pilar peradaban disamping dengan Ilmu pengetahuan dan Seni. Religiusitas yang akhirnya bermuara pada kesimpulan dan doktrinasi masa di jamannya yang terus berkembang. Meluas dan tak akan berhenti pada sebuah akhir pencarian.

Ketika Teknologi makin menusuk urat urat darah sendi kehidupan keseharian pun, pencarian tentang definisi manusia dalam kehidupan kesehariannya tak akan berhenti untuk sesaat sekalipun. Sampai pada akhirnya keseharian menjadi elemen elemen teknologi yang disosialkan lewat tangan tangan sistem, yang di sejarahkan oleh manusia itu sendiri dan pada akhirnya melahirkan manusia konsumtif dan takluk akan ciptaannya sendiri.

Secara sadar dan tidak (mau) untuk disadari pun, keseharian menjadi narasi filsafat yang indah. Ketika gelombang putus asa dan surga batiniah saling tercampur. Disaat itulah rasanya kita memiliki suatu catatan tentang perjalanan indah tentang dinamika keseharian, kesedihan dan anugrah. Keseharian yang dibaca pada akhirnya dengan teliti.

1 comment:

triesti said...

ah dikau masih menye menye....