Friday, February 04, 2005

Perbedaan dan isu Post-Kolonial (saja)

Penghilangan aspek aspek sosial dan sadar diri ditengah orang orang gila:)

Saya tertarik dengan tulisan seorang rekan yang benar benar menceritakan secara rinci "hantamannya" terhadap isu isu globalisme dan hidup-gaya yang kemarin kemarin saya bahas di blog ini. Inilah titik tolak dari salah satu wujud akumulasi kekecewaan dan kepenatan melihat keadaan yang semakin tidak berkembang dan ramainya entitas individu yang saat ini masih mengusung "mayat dan keranda" ideologi kritis, menuju pemakamannya.


"Popples," by Jeff Koons, porcelain, 29 ¼ inches high, number 1 of an edition of 3 plus one artist's proof, 1988

Tentang membahas, dengan meradang menyerang dan mencaci maki sebuah isu terpenting tentang Perbedaan dan ekses globalisme sebagai kaki tangan kolonial gaya baru yang tidak lagi bertarung lewat darah dan daging namun menyentuh elemen terpenting dalam aspek wacana dan budaya. Hanya salah satu dari identitas Post-kolonial yang tengah di jarah dan di ombang-ambingkan lewat kondisi sedemikian keras.Sebuah penentangan yang gagal dan pembentukan citra diri imajiner yang kerap kali terbentur oleh modernisasi, globalisasi, multikultural, justifikasi semu akan suatu keadaan yang berujung pada kehilangan identitas, kebingungan dan laksana gerak anak ayam kehilangan sang induk.Kebingungan memaknai percepatan waktu dan keadaan.

Berlanjut dalam skema arus narasi besar, bagaimana politik identitas baik dalam wujud kota, hidup gaya, berpikir dan merayakan eklektik dalam idiom yang tak lagi sehat tentang arus berpikir.

Untuk apa ? merayakan idiom dan simbol eklektik dalam lingkup lokal yang ternyata lebih rumit dan kompleks di banding infrastruktur negara maju. Itulah pertentangan yang tak seharusnya, penyikapan yang lebih baik untuk di simak tanpa harus memperjelas ke Post-Mo-an lokal yang jelas jelas belum menyentuh ranah wilayah keseluruhan modern sekalipun.

Hahahaha :), Merayakan kematian ideologi " Kesamaan" dan menggantikannya dengan "Yang Penting Keren" ...:P

Bisa jadi inilah dinamika Budaya, sistem dan penggolongan yang paradoks terhadap respon keadaan. Upaya mewakili jaman yang kerapkali mengindahkan sisi humanitas terhadap lingkungan. Terjebak dalam belantara dan patahan patahan jalur menuju keadaan modernitas. Sistem yang terbagi atas dominasi kekuasaan kuat yang saling menerkam dan memaksakan sakit bagi individu miskin.

Entitas semu dari tenggang rasa dan spirit sosial.Untuk identitas ?

Ya Identitas, cara menjaga "karakter" dan "sifat beda" kita. Mulai dari gaya hidup, strata sosial, agama, usia, ras/ etnis, bendera kelompok, sampai orientasi seksual umumnya menjadi referensi penting dalam eksistensi identitas.

Sesuatu yang kerap menyangsikan adanya lintas batas dan hukum "rimba", kemuakan melihat gerak dan falsafah hidup menye menye di kota besar. Antisipasi terhadap hantaman "brand" dengan membudayakan hidup hemat. masih melongok pada sisi estetikasi hidup gaya tanpa melihat keadaan dan kepentingan.

Dan perbedaan ?? multi wujud dan apapun yang namanya tak mengingkari bentuk kesamaan namun lebih kepada keragaman. mungkin seharusnya sudah di kembangkanlebih dalam polemik tentang perbedaan dan rasa percaya diri akan superioritas.

Polemik penting, dari salah satu permasalahan terbesar dalam konteks lokal. Identitas dan pencabutan spirit perlawanan. Isu besar dalam era post-kolonial.

Sebagai kelanjutan dari sebuah upaya ungkap mewadahi isu isu dan dinamika pergulatan multikulturalisme, global dan lainnya.Semacam medium untuk melihat perbedaan dan dinamikanya.


"Woman, Sunlight, Moonlight," by Roy Lichtenstein, painted and patinated bronze, 39 1/2 inches high, numbered 4/6, 1996

Sehingga, Pluralitas dan isu isu terpenting dimana perbedaan dalam berpkir saling berjalan dalam koridor yang sesuai. Sekali lagi mungkin wahana Kritis. Untuk menganggap kesatuan universal bukanlah dalih sederhana bagi pluralisme. Pluralisme di dunia demokrasi berkenaan dengan banyak suara yang perlu diperhatikan.

Ide terbaik akan memenangkan kompetisi. Bukan sekedar Orality alias Omong Doang. Pluralisme terdalam akan bertanya: " Bagaimana perbedaan budaya mengartikulasikan hak-hak orang lain dan apa inti dari kesatuan dalam perbedaan ini?"

Mari saling membongkar, mungkin inilah jalan terpenting dalam mencermati isu isu dalam konteks kekinian, sebagai salah satu wacana praktik.

2 comments:

kéré kêmplu said...

out of topic dikit:

jeff koons? "made in heaven"-nya di inggris dilarang, lalu disensor, tapi di jakarta dijual. gara-gara foto sama ilona cicciolina staller tuh. saya mau beli gak jadi, padahal pas ada diskon, karena belum menyiapkan anak saya untuk mencerna adegan mereka yang hard core.

globalisme, multikulturalisme, waduh saya makin bingung. sama bingungnya melihat kulit etnisitas diangkat oleh industri dalam paket world music, semata karena dianggap alernatif nan eksotis, lantas oleh toko dikelompokkan dalam rak cd new age. sambasunda? ada di rak cd trasisional, jejer dengan didi kempot dan manthous. karena saya nggak paham ya saya jalani saja semuanya... emang sih tanpa sikap kritis skeptis, hahaha! maklum saya orang awam, bisanya mikir yang sederhana gitu. :)

/ n i k k / said...

Ilona Cicciolina Staller? saya pendukung beratnya Mbah... hehehehe, kebetulan saya mengkoleksi tiruan visual setiap jengkal tubuhnya Mbah... soalnya ada permintaan dari Pakde Testosteron dan Paklik Skrotum Kambing, yang kebetulan juga anak asuh dari Hiperrealitas. (oops?)