Tuesday, February 08, 2005

Tanda dan tanda dan tanda dan tanda . . .

Mari kita berbincang bincang sejenak tentang "Tanda".

Tanda adalah sesuatu yang di kategorikan berada dan lekat dengan lingkungan kehidupan keseharian kita sampai sekarang. baik itu pesan dan upaya memberikan makna di dalam siaran televisi, rambu rambu di jalan, fotografi, media, surat kabar, fashion dan lain lain. Semua itu di simbolisasikan dengan jalan memberikan pengalaman baru akan tanda yang menjadi persepsi yang muncul dan berikut pesan pesan yang di sampaikannya kepada kita sendiri.

Adalah suatu usaha yang amat sangat rumit untuk mengurai tanda.Dimana di dunia ini penuh dengan jejak jejak dan artefak tanda yang di padu dengan tanda tanda baru yang berseliweran mewarnai dinamika masyarakat lokal ini.


Christo and Jeanne-Claude: Surrounded Islands, Biscayne Bay, Greater Miami, Florida, 1980-83

Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa pengalaman, pikiran, gagasan atau perasaan, dapat di katakan objek di dalam benda mewakili pikiran atau gagasan dari seorang, sesuatu dan apa tujuan itu di ciptakannya.

Memaknai dan mengklasifikasikan sebuah upaya reproduksi cecitraan sampai saat ini.Setiap simbol mewakili makna, dan makna mewakili sesuatu yang di jelaskan. Itulah jika di kaitkan dengan ilmu yang mempelajari tentang tanda sekalipun, Semiotika, maka berjejalan makna dan apa yang ada di balik tanda bisa terwujudkan dalam berbagai aspek yang tercampur baur. baik dari sisi ideologis, politis, religi, gender dan teori awang awang sekalipun. Ternyata tanda menyimpan makna sekalipun kecil bobotnya.

Bentuk tanda dalam ideologi lama ( Modern ) menawarkan sikap-sikap subversif,mengacu pada percepatan, dinamika dan oposisi serta di katakan otentik dalam menghadapi persoalan-persoalan dunia. Sementara representasi tanda dalam kazhanah, yang katakanlah kontemporer, seakan menawarkan suatu jalan balik, membuat tiruan-tiruan, dan mengulang-ulang sesuatu yang pernah ada, membuatnya menjadi sesuatu yang baru. Begitu terus menerus. Sampai tercipta sesuatu yang baru lagi.

Tanpa membutuhkan kode baru sekalipun, representasi tanda kontemporer telah mengakibatkan munculnya Alegori, yakni pengambilan bentuk kode lama yang di representasikan dalam bentuk baru. Dan sekaligus mematahkan sistem personifikasi tanda dalam konteks modern yang mana sesuatu yang orisinil dan otentik, di patahkan maknanya dengan eklektisitas dan pencampur adukan segala macam gaya, baik kurun waktu dan periodenya.Dan begitulah tanda sekalipun dalam penjelasannya terkait dengan konten tekstual. Sebuah teks dalam sudut pandang postmodernisme bukanlah ekspresi tunggal dan individual sang pembawa pesan atau medium; kegelisahannya, ketakutannya, ketertekanannya, keterasingannya, kegairahannya atau kegembiraannya, melainkan sebuah permainan dengan kutipan-kutipan bahasa, yang di pakai untuk menjelaskan tanda ke-sekarang-annya itu.


Christo and Jeanne-Claude: Indoor Installation The Wall, 13.000 Oilbarrels,Gasometer, Oberhausen, 1999

Tanpa kita sadari sekalipun, tanda telah di lahirkan secara sengaja, dan tidak sengaja sekalipun dalam konteks pewarnaan dan elemen fungsi masyarakat sekalipun. Lihat bagaimana media gosip lokal yang memberikan berita terbaru tentang artis yang akan bercerai, dalam menayangkan gambar gambarnya sekalipun, identitas dan opini publik saling terkait terutama dengan gambaran dan misi makna dari balik gambar gambar yang di tayangkan menyangkut industri televisi, bias gender, komoditas berita dan ada semacam upaya pemampatan dan pengkerdilan esensi jurnalisme itu sendiri. Dan itu perlahan lahan mulai di benarkan seketika. Hal mana yang mengakibatkan Budaya Massa mendapat tempat yang sedikit rawan akan simulasi dan permainan tanda yang saling menyudutkan makna.

Mencermati tanda membuat adanya upaya menjaga jarak demi menciptakan keshahihan dan objektifitas yang berguna demi memandang secara jernih apapun persoalannya.Mungkin saya salah, namun upaya komunikasi dan saling bertautan dalam memahami pesan ternyata telah di gunakan lewat tanda sekalipun, demi menjalankan salah satu aturan sosial, saling berkaitan dan komunikasi secara nyata, apapun cara dan maknanya.

3 comments:

kéré kêmplu said...

sopir truk benar. dia taruh tulisan di bagian belakang bak truknya: awas! jaga jarak!

memang sih, tak berarti dengan menjaga jarak lantas kewarasan kita terjaga, toh soal waras dan tidak itu semata siapa yang berada di kurve normal, dan yang di luar itu, secara statistik, berarti menyimpang. lebih mendasar lagi: dengan menjaga jarak tak berarti persoalan lebih kita pahami.

jadi? mau ikut ruwet-ruwetan saja. ibarat menyelinap ke lipatan bungkus raksasanya christo: itu menjaga jarak dari christo sebagai pribadi -- karena kita memperpendek jarak dengan karyanya -- atau kita justru semakin tak berjarak dengan christo?

pengalaman visual yang didapat dari foto ciptaan christo: itu berjarak karena kita sekadar menikmati pembekuan dari rentang waktu kehadiran sebuah karya, atau justru membuat kita agak lebih dekat karena yang gigantis akhirnya jadi kecil sehingga salah satu sisinya tertelan oleh mata?

ruwet juga ya blog sampeyan ini dan saya ikutan ruwet biar keliatan ruwet :)

wahyudi pratama said...

hehehe ojo mumet lah mas...lagian saya aja mau gak ruwet tapi jadinya begini hahaha

kalo saya menaruh foto karya karya christo itu dengan pertimbangan bahwa tanda dan jarak yang diciptakannya memungkinkan adanya makna baru dalam segi tanda. kalo di kaji denga ilmu semiotika ya jadinya ada jarak yang diciptakan, momentum karya sesaat dengan perencanaan puluhan tahun. Gigantis dan hasil akhirnya, berikut lokasi dan penempatan segede gambreng gitu aja udah bikin makna dan penandaan baru ...weleh weleh ...

Jika di kaji dari latar belakang pula, wahhh lewat deh seniman lokal yang berurusan sama birokrasi hehehehe :P kebayang di rencanain karyanya tahun 80 baru terwujud tahun 2004.

Tanda tanda dan tanda dan makna kayaknya sih bagusnya judul postingan ini hehehe

/ n i k k / said...

Tanda melingkupi semua aspek. Tanda beku dan berdiri dengan angkuhnya. Jika dunia penuh dengan tanda, maka tidak ada sesuatu yang kebetulan. Jika sekeliling kita penuh makna, maka segalanya sebenarnya tercipta. Namun, apakah tanda-tanda kekuasaan Tuhan tercakup dalam hal ini? Adakah semiotika mengenai Tuhan?