Wednesday, February 23, 2005

Filsafat Sakit Perut

Dimulai dengan ...sakit perut.

Saya yakin jika kita mengalami kondisi di mana seakan akan gelembung udara di dalam perut yang kian mendesak dengan terganggunya pencernaan karena kesalahan asupan zat zat dari makanan yang selalu telat dan tak teratur.

Wah, ternyata sakit perut karena hal ini memiliki dua kajian makna sesungguhnya. Satu lari terbirit birit setiap ada kesempatan ke WC, sedangkan yang kedua, sebisa mungkin menahannya. Menahan sakit perut di tengah rapat kantor adalah resiko yang amat sangat mengerikan dan ketika terbirit birit di pagi hari harus bangun sementara malamnya menderita sakit perut tak berkesudahan. Hmmmm ....bukan sebuah kondisi yang mengenakkan.


James Turrell, Night Passage, 1987 - new media

Dan saya sering melamun, betapa hal ini bisa membuat kita tak berdaya. Kondisi fisik manusia yang kian lama kian rapuh.Diakibatkan apa yang kita konsumsi selam aini sudah disusupi segala macam agenda politis dan infiltrasi ideologis semata dengan kadar gizi yang amat rendah,jelas jelas mengesampingkan nilai kesehatan. Dengan kata lain, unsur kimiawi.

Saya pernah membaca, biasanya jenazah ditaruh di sebuah peti kayu dan dibakar pada suhu 760 – 1150 derajat Celsius. Abu pembakaran kira-kira beratnya sekitar 5% berat jenazah. Jika dahulu temperatur panas yang di pakai untuk menakar mengkremasi jenazah cukup dengan skala sedemikian rupa, maka saat ini jenazah yang hendak di kremasi, temperaturnya harus di set berlipat kali dari 760 - 1150 derajat celcius,untuk lebih mempercepat proses menjadi abu (sialnya saya lupa sumbernya). Ternyata tubuh manusia sudah menjadi sedemikian alot dengan banyaknya unsur lain yang terdapat di dalam tubuhnya.

Perut adalah bagian dari tubuh, wilayah penting tentang bagaimana asupan zat yang dibutuhkan dan tidak di butuhkan oleh tubuh diolah disini. Dan zat zat yang dibutuhkan tentunya amat memungkinkan kita segar dan sesuai dengan porsinya dalam beraktifitas.


Matthew Barney,CREMASTER 5,1997 - Video, Performance Art, Mix media

Perhatian kita terhadap tubuh ternyata telah berputar pada segala macam nilai dan fisik yang lebih riil. Makna ideologis lewat pengukuhan identitas berganti rupa saat fisik di terapkan dalam hubungannya dengan keberlangsungan hidup. Sebuah wacana yang memiliki keberlangsungan konsep dengan fisik dan inderawi.Sebuha wilayah kajian ketika identitas gender, fashion, rangka ke-gaya-an hidup berlangsung dalam siklus superfisial berubah menjadi pahit ketika organ penting dari dalam tubuh sendiri menjerit jerit minta di perhatikan.

Tubuh sendiri dari semenjak sejarah Adam - Hawa terdeteksi, sudah menjadi semacam seismograf atau alat pencatat detil tiap aktifitas dari kebudayaan. Sesuatu yang luar biasa kompleks jika hal ini sendirian tanpa di bandingkan oleh sistem mekanis organ dalam tubuh yang merupakan sesuatu yang kerap di perhatikan. Ini menjadi pembeda pula ketika wacana tubuh di kaitkan dengan kepemilikan penis dan vagina. Konsep dan ribuan konsep androginitas tak akan usai dan beres ketika salah satu pihak dan dominasi saling klaim ulang wilayah kajian dan ideologis. Ketika salah satu pihak memuja ideologi maskulinitas dan satunya lagi konsep kecantikan femininisme maka kontradiksi tetap terjaga. Secara sadar atau tidak friksi dan pertentangan antara tarik ulur wilayah selalu terjadi.

Inilah metafora, sebuah bentuk wacana ataupun proses yang bersifat retorik yang memungkinkan manusia mendapatkan kemampuan aneh untuk mendeskripsikan kenyataan,jika dia mengalami ...sakit perut yang tak berkesudahan. Akibat salah makan tentunya.

6 comments:

kéré kêmplu said...

orang yunani kuno bilang, "kenyang dulu baru berfilsafat". saya lupa kalimat aslinya, toh kalau ingat juga percuma karena saya nggak bisa bahasa "gedrik" [greek].

karena ada perbudakan, ada pembagian kerja, ada orang yang kenyang, ada orang yang boleh cuma bertanya dan bertanya, juga ngobrol, maka filsafat pun berkembang. ah masa sih? bukannya ada filsuf yang menjelang matinya masih ingat berutang ayam?

kembai kepada perut. kaum vegetarian bilang, perut kaum pemakan daging adalah kuburan. tapi saya nggak tahu, jika tumbuhan juga sosok yang berjiwa, anima, karena katanya bisa diajak bicara dan menikmati musik, apakah perut vegeterian juga tergolong kuburan?

sejarah manusia, jangan-jangan, memang cuma digerakkan oleh dorongan purba yang disebut libido: bagaimana makan supaya bisa tetap hidup dan bagaimana berkopulasi supaya spesies tak punah. naluriah sih. :)

sofistifikasi terhadap cara pemenuhan kebutuhan naluriah itulah yang tampaknya ditepatkan sebagai potret kebudayaan dan peradaban, termasuk dalam urusan soal perut, sehingga gastronomi dan seni kuliner berkembang, lantas ahlinya merasa sudah lebih berbudaya :P

masih soal perut. mestinya kajian medis terhadap isi perut bisa menjadi sebuah cerita yang mengasyikkan bagi orang awam. sama seperti harapan saya terhadap sebuah tim antropologi kota, di amrik*, yang memeriksa sejmlah sampel keranjang sampah untuk membedah perilaku masyarakat.

*) cuma berita kecil, di rubrik peristiwa aneh, dalam sebuah koran, bertahun suilam

wahyudi pratama said...

Tentang perut pasti kaitannya dengan makan hehehehe yoi mas kere ....naluriah sama aja dengan binatang cuma lebihnya manusia bisa mikir dikit ....hahaha

Sepertinya ada yang salah dengan manusia ...ehhh becanda ding hehehehe

Dulu Aristoteles pernah bilang,
tubuh dan jiwa manusia justru sebagai satu kesatuan. Keduanya menyatu sedemikan sehingga jiwa mau tidak mau pasti akan mengalami kerusakan dan kematian sesaat badan mengalami kematian.

Descartes pernah bilang hal yang lain lagi tentang ini, tentang dualisme jiwa dan tubuh.
Ia merumuskan sesuatu yang sudah lama terpendam dalam iklim filsafat barat dan masih tetap hidup terus yaitu dualitas, keduaan tubuh dan jiwa.

trus ada lagi, Manusia di curigai sudah dari sononya mengalami hasrat dan tujuan sebagai wujud nalurinya yang sebelas dua belas sama binatang ( kata Nietschze lho).... memelihara api dan hasrat kebinatangan yang bikin hidup lebih hidup (hahaha maksa)

Dan sekarang, orang orang kayak baudrillard, Fukuyama, Foucault bilang kalo tubuh adalah wahana berbagai macam identitas, ideologis dan politis ..mengakomodir segala macam hal hal yang mewarnai hidup. Anthroposentris deh ...

Saya jadi mikir ternyata kecurigaan terhadap konsep tubuh itu sendiri udah berusia ribuan tahun. Semenjak filsafat itu sendiri ditemukan. Semacam ada nilai nilai enigmatik terhadap tubuh.Manusia mencoba memahami apa yang ada di dalam tubuhnya, apa yangmenggerakan tubuhnya secara mekanis. Dan akhirnya saya rasa manusia belajar dengan asupan dan hal hal fisik dan non fisik di luar ke-"tubuh'-an, sebagai sesuatu yang di pelajari untuk melihat faktor2 pembentuk diri manusia.:p

Dan saya jadi yakin bahwa persoalan tentang tubuh, identitas, filsafat makanan untuk perut ini, ternyata terus menerus di kaji dari semenjak Aristoteles ABG sampai Francis Fukuyama mau kawin lagi hehehehehe.

Soal kuliner itu emang keren ...hasrat artistik dalam mengolah makanan yang erat kaitannya dengan cita rasa :P padahal mah kalo udah di perut ya keluarnya gitu gitu juga ahahahahaa

/ n i k k / said...

Saya juga pernah baca, kalo enzim yang terpaksa keluar karena keseimbangan zat zat gizi terganggu di dalam perut itu mengakibatkan mules atau apa dan sebagainya adalah bersifat toksik jika dibiarkan terlalu lama menjajah setiap inci dinding2 usus dan lambung kita. Kebetulan saya juga kmaren sakit perut gara2 masuk angin sehabis muter2 Jakarta seharian pake singlet brudul doang....heuhuehuee

Anyway, kalo ditilik semuanya dari filsafat barat, apakah pencarian makna yang terus menerus digali tadi akan menemui titik akhir atau konklusi? Memang sih bukan hasil akhir yang diminta, namun kendati demikian seorang filsuf (barat) mustinya mampir ke warung2 filsafat yang ia lewati di sepanjang perjalanannya, katakanlah warung tegal atau warung makan masakan padang pasir. Bolehlah berlagak dengan busana materialisme fundamentalis, asal kacamata kudanya dicopot.... biar lebih berbudaya gitu...

Makna boleh beda di setiap konsep otak manusia. Kurang lebih demikian karena asupan nilai gizinya pun beda di setiap perut.

Hmm... saya hanya melihat bahwa filsafat barat bukan segalanya dalam menentukan kandungan esensi setiap elemen hidup, hingga urusan gerogot brutal enzim beracun yang mencabik di dalam sana..... Saya masih merasa ada campur tangan kepicikan di luar sana.

wahyudi pratama said...

ya kalau mencurigai filsafat barat sih sah sah aja.. toh hegemonitas mereka udah mulai di pertanyakan dan di indikasikan mulai runtuh ..melihat kuatnya cross-culture saat ini.

Cuma sialnya kita belajar dari mereka dahulu untuk pemahaman ini ..karena budaya mendokumentasi mereka udah ribuan tahun apalagi untuk sekedar objek filsafat ...lebih kompleks dan ribet dari yang kita bayangkan.

Rasanya agak naif kalo kita mempertanyakan " barat itu udah gak mafhum lagi", lagian filsafat bukan mencari titik temu atau solusi ..tapi memaparkan masalah integritas yang terkait dengan visi ..

mungkin bisa di lihat ulang pertanyaannya udah terjawab

/ n i k k / said...

aha! iya saya juga seharusnya mengungkapkan kalimat:"...tapi memaparkan masalah integritas yang terkait dengan visi."... hanya saja nak Yudi ini lebih pinter dari saya.

Ok. Sejarah memang harus dikaji. Termasuk di dalamnya apapun yang terekam ataupun tidak, terlepas dari otentisitasnya.

jailix said...

ribut-ribut soal libido, sekali-kali perlu dipertanyakan, jangan-jangan libido itu cuma tipuan alam supaya spesies tidak punah?

sedang masalah klaim pemakan daging adalah kuburan, sudah bisa ditebak kaum non-vegetarian akan balik bertanya, "Apa tumbuhan bukan makhluk hidup?" Susah juga kalau manusia disuruh makan batu ya? Kalau mau lihat dari sisi teologi mistik sih, katanya di dunia ini ada 4 gradasi beings: mere beings - living beings - human intellect - angelic intelect. Cuma tidak dijelaskan apakah tumbuhan dan hewan itu termasuk dalam satu tingkat sama rata dalam gradasi ke-2. Yang jelas, pemakan daging itu bau. Tidak percaya? Coba saja tidak menyentuh daging barang satu tahun.