Wednesday, January 26, 2005

Membungkam Imajinasi tentang SEJARAH

Jangan percaya terhadap Sejarah seutuhnya.


Untitled, 1985 - Barbara Kruger

Sejarah merupakan: riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi(??)(sumber)

Kerangka pemahaman Sejarah itu sendiri ternyata tidak seperti yang kita duga. Bagaimanapun sampai saat ini kita tak akan pernah dan tidak akan pernah yakin bahwa Sejarah itu benar adanya. Apalagi yang menyangkut Sosio-politis.

Untuk menghancurkan sebuah bangsa, hancurkan sejarah dan kebanggaannya terhadap sejarah itu sendiri.

Karena, sejarah sendiri merupakan representasi dari peradaban itu sendiri.

Ada perkataan menarik Bambang Sugiharto yang saya tafsirkan bahwa, imajinasi tentang sejarah terbentuk dan diperkuat oleh alam pikiran manusia itu sendiri.Imajinasi tentang Sejarah atau Historis, terbentuk sebagai bagian perjalanan penting evolusi peradaban.

Sejarah merupakan efek balik dari perubahan kebudayaan dan pergulatan kelas seperti yang di tulis oleh Marx, Comte dan para filsuf Eksistensialis yang memandang Sejarah sebagai Proyek kehidupan penegas eksistensi. (saya cukup tertarik dengan pemikiran marx bahwa Sejarah adalah hasil pergulatan kelas)


exhibition, 1991. Mary Boone Gallery- Barbara Kruger

Disisi lain waktu juga di anggap memegang proses penting pertumbuhan sejarah sejak jaman dulu kala.Saya mulai berpikir bahwa imajinasi hitoris tak terlepas dari reka bentuk dan manipulasi cara penyampaian yang mengakibatkan distorsi makna dan representasi akhir tentang konsep sejarah yang terus menerus berubah.

Bagaimana institusi kuat dan hal lain yang lebih kompeten mengakibatkan sejarah berubah sampai saat ini. Mungkin saja berkat media baru dalam penyampaian ideologi seperti teknologi dan iptek mengakibatkan penghayatan sejarah berubah. Kepentingan sejarah tidak lagi sekedar buku buku ABCD dan tulisan otentik yang di yakini sebagai bukti historis, namun telah menjelma menjadi tayangan simulasi yang memainkan dimensi waktu masa lalu dan masa depan yang bisa di hayati secara simultan.

Ada anggapan bahwa dengan memahami masa lalu akan dapat memahami masa depan. Sesuatu yang naif dan memaksa dengan kasar, bahwa pemahaman akan masa depan dapat di lalui dengan reka konstruksi historis tentang Sejarah itu sendiri.Sejarah tak lebih dari permainan historis masa lalu dan masa depan sebagai rekonstruksi hiruk pikuk yang mengambil tema peradaban.

Seperti yang diingatkan oleh Foucault, dalam Genealogy of History, bahwa sejarah dicurigai sebagai praktik strategi bentuk bentuk kekuasaan yang di wujudkan dalam pola imajinasi historis.Yang membungkam manusia untuk merumuskan pengalaman dan kebutuhan konkret atas dimensi ruang dan waktu, sebagai latar belakang peradaban.

Dunia makna membentuk sisi kesejarahan dan arus yang seharusnya kita fahami sebagai wujud toleransi kepada masa depan. Kepada masa depan dan hidup seharusnya kita mengalami penyesuaian makna. Melongok sejarah adalah bagus namun yang terpenting apa yang harus kita percayai untuk itu lebih dari sekedar kepastian tegangan realitas nyata. Sekedar melongok bukan berarti melupakan rekonstruksi sejarah yang di penuhi oleh manipulasi dan kontrol institusi.

Manusia ternyata kebingungan akan sejarahnya sendiri.

Menciptakan sejarah ternyata ikut 'memperkeruh' suasana, rupanya.

(disarikan dari tulisan Bambang Sugiharto, Comte dan artikel artikel kesejarahan serta karya karya Barbara Kruger)

2 comments:

kéré kêmplu said...

hmmm.... sejarah? masa lalu? walah! apa yang kita yakini sebagai fakta sekarang saja hanya merupakan merupakan konstruksi dari serapan penginderaan dan ingatan. apa jadinya ketika "fakta" itu jadi "sejarah" buat menapaki masa depan?

yeah, pendapat saya ini kelas obrolan warung indomi + roti bakar. makin muluk2 dan mumet, bagi saya makin sip, supaya cepet ngantuk. jadi harap maklum kalau dalam blog saya nanti saya akan bilang "belajarlah dari sejarah", seolah-olah yakin kepada sejarah. inkonsistensi itu enak lho... :)
gombal.blogdrive.com
gombalabel.blogdrive.com

wahyudi pratama said...

hehehe emang enak mas obrolan kelas indomie + roti bakar dan teh manis anget gak ada matinya ...

toh bagi sekedar menuliskan kata " sejarah" saja, sudah harus siap menginajinasikan sisi historis dari kejayaan masa lalu yang masih abstraktif. Dan celakanya beberapa orang masih menganggap sejarah memegang peranan penting untuk menata masa depan, mungkin kalau sekedar mengingat iya, tapi apa ya bisa buat masa depan?

belum lagi doktrin2 tentang sejarah sampe sekarang masih ada di ingatan kita. Saya gak mau berberat berat dengan haru smendefinisikan ulang sejarah itu sendiri, tapi mencoba sisi kritis dari diri kita sendiri aja untuk mempertanyakan apa itu sejarah ? haree genee getooo hehehehe